BPBD79 – Upaya membangun kesadaran kolektif terhadap ancaman perubahan lingkungan terus digencarkan di Kota Tidore Kepulauan. Salah satunya melalui diskusi bertema “Perubahan Lingkungan dan Masa Depan Tidore” yang digelar Komunitas Sekolah Adat Dodara di Titik Temu Coffee, Kelurahan Gamtufkange, Jumat (6/2/2026).
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Abubakar. Ia menilai forum diskusi seperti ini menjadi ruang refleksi penting untuk meningkatkan kepedulian masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap isu perubahan iklim dan risiko kebencanaan yang kian nyata.
Menurutnya, dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan bukan lagi sekadar isu global, melainkan sudah dirasakan langsung di Tidore.
“Perubahan iklim dan degradasi lingkungan bukan lagi isu global semata, tetapi sudah kita rasakan langsung dampaknya di Tidore, seperti meningkatnya potensi banjir, tanah longsor, dan abrasi. Karena itu, peran komunitas adat dan lembaga pendidikan alternatif seperti Sekolah Adat Dodara sangat strategis dalam menanamkan nilai kearifan lokal sebagai upaya mitigasi bencana,” ujarnya.
Ia menegaskan, BPBD Kota Tidore Kepulauan terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas adat, dalam memperkuat edukasi kebencanaan berbasis kearifan lokal. Sinergi tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus memastikan keberlanjutan masa depan daerah.
“Menjaga alam berarti menjaga kehidupan. Diskusi-diskusi seperti ini harus terus diperluas agar kesadaran lingkungan tumbuh dari akar budaya kita sendiri,” tambahnya.
Sementara itu, Koordinator Lingkungan Sekolah Adat Dodara, Nurlia Safitri Abubakar, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program Sekolah Adat Dodara dalam merespons krisis iklim yang terjadi di Kota Tidore Kepulauan.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran kita semua akan pentingnya menjaga lingkungan dan mengembangkan strategi yang berkelanjutan dalam menghadapi perubahan iklim. Diskusi ini juga diharapkan mampu mendorong kebijakan yang lebih pro-lingkungan di Kota Tidore,” ungkapnya.
Lia berharap diskusi tersebut tidak berhenti sebagai ruang bertukar gagasan, tetapi mampu melahirkan langkah nyata demi perubahan lingkungan yang lebih baik.
“Saya berharap ke depan ada peningkatan kesadaran masyarakat, khususnya dalam hal pengelolaan sampah dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Karena menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi tanggung jawab kita bersama demi masa depan Tidore yang lebih sehat dan berkelanjutan,” tutupnya.
Kegiatan diskusi yang berlangsung interaktif tersebut berjalan lancar dan mendapat antusiasme peserta dari berbagai kalangan.



